tentang puisi

Tuesday, May 30, 2006

terhempas
bilur-bilur rindu mengering
pada pucuk-pucuk daun menguning
pada tunas-tunas pohon meranggas
melambai ringan bagai selembar kertas
jatuh
terkulai
lemas
tak bernafas

hembusan bayu kemudian menjentiknya
lalu menghempaskannya pada gugusan karang
hancur
rucah di antara debur

sayap cinta ini telah patah
sebelum matahari naik ke tengah
bilur ini telah berai
sebelum ombak sampai ke pantai

*kolaborasi dengan Bunda*

Keira

basah berkeringat berjalan membunuh penat
stasiun Cikini selepas jam satu pagi
memperhatikan manusia-manusia kelelawar
memuja dewa-dewi berwujud gambar
selinting ganja dihisap, sebotol arak dikecap
bergantian memutari altar perjamuan
di ujung lain lima - enam bocah usia tujuh - delapan
mengguggis bibir Aica dengan mata terpejam
ria ria ria riang, tawa tawa tawa tawar

kutemukan cinta di antara mereka
manusia-manusia yang dilewatkan masa
sementara diriku begitu papa
menunggumu...menunggumu tak berwujud nyata

di bangku panjang tak beralas
kuistirahatkan kantuk dan cemas
lagi hatiku masgyul mengakui
masih kutunggu kau di stasiun Cikini

requiem Ke

termangu
lelaki dalam beku
persimpangan ini
de javu

sebatang rokok diselip
pada ujung bibirnya yang lancip
sehabis tarikan kesembilan
gontai kaki seret ke depan

sudah kutahu ujungnya
katakombe serupa di Antiokhia, bisiknya
aku pasti meninggalkannya!, cercaunya gundah
sementara jalanan makin penuh palem rebah

selamat datang mempelai pria
kekasihmu sudah menunggu di altar
ini bawalah cincin kematian
mari rayakan perkawinan

tanggung bulan

baru terasa miskin
bahkan untuk seliter bensin
padahal hanya tujuh hari
tujuh tahun rasanya menanti
beginilah bila bergantung
saat bulan tanggung
gelisahnya sampai di leher ujung
(hikz...wesel telat lagi, bung)

bercerita padamu
pada pijar aura
pada rima tuturnya
pada segala keberadaannya
aku sedikit menemukanmu dalam dia

inikah masa menabur?
sementara musim belum lagi sempurna
angin utara pun masih menderu seperti tambur
belum reda, belum waktunya, katanya di telinga
pulang

"le, bapakmu sakit lagi

obat dari pak mantri sudah habis tempo hari
pulang ya le minggu ini
bawa sedikit beras dan gula jika ada sisa rizki
mak sudah terlalu malu untuk berhutang
bu endah, si jalu juga warung mbah tumpang
belum lagi adik-adikmu lima bulan nunggak iuran sekolah
malu le, emak enggan keluar rumah
kamu satu-satunya harapan kami
sekolahmu yang tinggi sangat berarti
sudah tiga bulan sejak kamu pamit emakmu ini
tentu saati ini kamu sudah punya pekerjaan pasti
pulang ya le minggu ini
nanti, selepas hari kamu terima gaji"

ah mak, suratmu seminggu lalu
sungguh membuatku gundah tak menentu
ampuni aku mak anak tak berbakti ini
aku baru bisa pulang hari ini
(semalam aku berhasil merampok toko besi)

tai kebo

tai kebo warna ijo
vitamin c pipi rambo
vietkong loyo
rambo pulang bawa bojo

tai kebo warna ijo
dibawa rambo sampe indo
mujarab juga aji-aji
emas diangkuti
minyak dicuri
indo bleeh nggak juga ngerti

tai kebo warna ijo
rambo gelo dijadiin hero
indo bodo indo bego
dasar tai kebo


diayun ragu

tak bisa kutahan laju angin
sementara penantian ini mulai mendingin
aku pilu diayun ragu
dan waktu tak jua datang memihakku

atas nama cinta, demi nama cinta, dalam nama cinta
kesetiaan pada ketidakpastiaan adakah guna ?

demi waktu

lelaki tua dengan senyuman
enampuluh enam mendekap buku harian
hari ini mati di plaza senayan

pers rusuh masyarakat gaduh
siapa lelaki yang mati ini
tak dikenali tak ada anak tak ada istri

polisi bergerak intelejen bertindak
tak ingin lelaki di politisasi
lelaki tua mati di tempat belanja
gawat darurat bila australia mendengarnya

kemarin dia tiba di jakarta
berkereta jogja selepas senja
kabarnya lelaki ini sudah gila
enampuluh enam tapi coba lihat penampilannya
jeans wrangler, sepatu converse dan jaket doors ijo tua
alamakkk...jangan-jangan pedofilia

lelaki tua enampuluh enam
mendekap buku harian dengan senyuman
ada gerangan apa mati di plaza senayan ?
306

ruang empat
terisi dua
membisu
dan torehan luka

tiga kosong enam
kenyataan menepikan keajaiban
kekuatan menyerah pada ketaatan
kekecewaan dalam senyuman nanar
dan hati masygul untuk mengikhlaskan